kekasihwaktu

...waktu adalah detak jantung kita sendiri





inilah arti banyak dari satu kata laknat
:Waktu
inilah halte kehidupan.
konstanta peradaban.
partikel sebuah perjalanan;
semua tumbuh sendiri
semua rusak sendiri,
untuk akhirnya mati.
( dan Waktu mengalir di situ)

panggil saja aku :
perempuan kekasih Waktu!
kekasihwaktu@yahoo.com


<< December 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Memento

Time is three things for most people, but for you, for us, just one.
A singularity. One moment.
This moment. Like you're the center of the clock, the axis on which the hands turn.
Time moves about you but never moves you.
It has lost its ability to affect you. What is it they say? That time is theft?
But not for you. Close your eyes and you can start all over again.
Conjure up that necessary emotion, fresh as roses.

Time is an absurdity. An abstraction.
The only thing that matters is this moment.
This moment a million times over.
You have to trust me.
If this moment is repeated enough,
if you keep trying-and you have to keep trying-eventually
you will come across the next item on your list.

Literature::

  • Pablo Neruda
  • Faust
  • Aynrand
  • Pulitzer
  • Yasunari Kawabata
  • Franz Kafka
  • Milan Kundera
  • Yukio Mishima
  • The Modern Word
  • Jhumpa Lahiri
  • Jorge Luis Borges
  • Arundhati Roy
  • Bei Dao

    Hiddendoors::

  • Tarotschool

  • Abundansecrets


  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



    Wednesday, October 27, 2010
    Tuhan, Mbah Marijan & Jawa

    Pagi ini seorang kawan lama sesama  pendaki mengabarkan bahwa Mbah Marijan si Penjaga Merapi itu wafat. Berbagai  reaksi bermunculan. Salah satunya ada pihak yang mengatakan bahwa Mbah Marijan sangat menyepelekan ilmu pengetahuan yang jelas2 sudah member tahu ttg bahaya Merapi.  Ingatan ttg beliau tiba2 berhamburan. Saya ingat dulu beliau selalu menemani malam minggu ketika bersama sahabat2 saya dengan gaya sok jagoan jadi pendaki gunung itu ( gaya sok jagoan kami adalah mengikuti gaya beliau yang  memakai sarung dan membawa sebotol air minum saja). HIngga pada satu sore di sebuah senja yang jatuh dengan secangkir kopi dan ketawanya yang khas kami sempat bercakap tentang Merapi.

    Sebenarnya orang Jawa itu tidak mengenal konsep Tuhan dalam arti pemahaman agama2 Samawi yang notabene sebenarnya ‘impor’ bagi kultur  Jawa. Pulau yang begitu subur dengan bermacam2 gunung tentu saja selalu melimpahi  rakyatnya dengan berbagai kemakmuran, karena Tuhan adalah apa yang begitu ‘dekat’ dengan mereka maka Alam Semesta itu lah sebenarnya yang mereka sebut Tuhan. Tentu saja setelah berbagai kultur  dari India dengan Hinduism dan Budhanya, Arab dengan Yahudi, Kristen dan Islamnya mau tidak mau mereka harus mengkongkritkan pemahaman Tuhan ke dalam bentuk yang lebih kongkrit. Dan hirarki tertinggi mereka tentu saja adalah para Raja2 Jawa. Itu sebabnya jika Anda masih memiliki nenek2  atau kakek2 suku Jawa, cara mereka memanggil Tuhan adalah dengan sebutan “Gusti Allah” bahkan ada yang menyebutnya “Gusti Pangeran”  masih banyak  yang menyebut. Konsep ‘Gusti’ inilah sebenarnya adalah cara mereka berusaha keras  bahwa konsep abstrak mereka ttg Tuhan bisa terwujud dalam bentuk ‘Gusti”  ( panggilan untuk raja). Banyak doa2 jawa menyebut “ Duh Gusti Pangeran yang maha Agung …..” . karena itu tak heran bahwa  Raja adalah manifestasi tertinggi mereka untuk loyalitas. Apapun titah raja itu adalah bentuk ‘perintah’ dari   Kekuatan Terbesar  alam Semesta.  Ketika mbah Marijan dititahkan Raja Jawa untuk menjaga Merapi, itu bagaikan Musa di gurun Sinai yang mendengar langsung Tuhan dan memberi 10 perintah keilahiannya. Sesuatu yang harus secara total dan penuh di jalani apapun resikonya. Persepektif keimanan dan ketaatan inilah yang sulit sekali sebenarnya di jelaskan dengan akal sehat di alam modern ini. Seperti halnya para kelompok2 garis geras yang mengatasnamakan agama tertentu  yang terus melakukan tindakan anarkis, bagi mereka itu adalah masalah keyakinan dan keimanan mereka. Demikian pula dengan Mbah Marijan. Bagi beliau, meninggal dalam menjalankan perintah “Gusti Pangeran”  yang disampaikan Hamengkubowono adalah jihad dan  beliau menjalaninya dengan penuh cinta dan pengabdian yang penuh. Jadi bukan karena dia melecehkan ilmu pengetahuan atau bertindak bodoh. Beliau dengan amat sadar sekali dengan semua resiko itu. Sepert halnya para pelaku bom bunuh diri di negeri ini. Apapun agama di dunia ini selalu mengenal konsep ‘pengorbanan’, Islam dengan perintah menyembelih Ismailnya, Kristen dengan Penyaliban Yesus, Hindu dengan pembakaran api sucinya dll. Apakah itu kebodohan? Tentu saja buat penganut paham logika akan mengatakan ya tetapi dalam persepektif keimanan itu adalah bentuk kesetiaan keCintaan manusia terhadap Tuhan dan melalui ‘pengorbanan’ itu pula diharapkan akan terjadi keseimbangan buat umat manusia dan tentu saja alam ini sendiri. Bisa jadi itu yang ada di dalam benak Mbah Marijan saat semua akal sehat mengatakan betapa bodohnya dia tidak mau meninggalkan KInahrejo. Desa itu adalah hidupnya, cintanya. Kematian buat seorang Mbah Marijan bukanlah hal yang menakutkan. Karena kematian justru bentuk manifestasi tertingginya bersatu bersama Alam yang sangat amat mencintai dan dicintainya. Rumah yang sebenarnya buat beliau justru sudah ditempatinya. Alam ini sendiri. Siapa bilang dia tidak bahagia ? justru saya pribadi sangat “iri” bahwa dia menjalani kematian dengan penuh Cinta dan dengan kesadaran penuh untuk pulang ke Tuhannya : Alam Semesta.

    Sampai ketemu lagi Mbah…kita akan ketemu lagi ditempat dahulu kita mulai…

     

    Ingatan sebuah pendakian yang tak terlupakan bersama : Tofa, Cieng, Jojon, Weni, Nanang, Yuyun,Bavo, Farida.


    Sunday, February 21, 2010
    www.budenovi.com

    silakan kunjungi website saya : www.budenovi.com

    Monday, August 31, 2009
    seperti inilah

    seperti inilah, aku letakka ranjang dalam dadamu
    kujadikan rongarongga sempit itu kamar cintaku
    aku bahagia mencintamu.

    apa kabarmu malam?

    Apa kabarmu  malam? Sesekali kita terjaga tengah bercermin pada segala, pada fragmen kalimat yang tidak relevan, pada potongan ingatan akan sebuah kisah atau percakapan lalu tersandung serpih yang ternyata telah jadi sebutir kata kunci. Ia membuka kotak pandora dalam dada lalu menyebarkan polusi di rongga-rongga dengan kental kesedihan dalam udara. Nafas-nafas sarat lalu sesak dan berat.

    Apa kabarmu malam? sebuah sedih yang pada puncaknya sanggup membisukan segenapmu dalam kedap yang sempurna. kedap pepat seperti perangkap kaca tahan peluru atau ruang "airlock" pada pesawat antariksa. Tak ada bunyi yang rambat, tak ada resonan atau hembusan yang rajin mengirimkan jeritan atau isak yang biasanya disandikan diam-diam lalu diurai kode-kodenya oleh radar empati. Hanya khayalan akan getar pita suara yang putus asa yang belum tentu terbukti pula.

    apa kabarmu malam? masa lalu seperti bangunan yang kita dirikan, lemari yang dipenuh-penuhkan, kamar-kamar yang kita tata dengan begitu pribadi namun tak untuk ditinggali. aku terus berjalan lurus membangun sepetak demi sepetak lahan yang terus menjulang sesekali megah, kadang rapuh, kadang memar tapi semuanya dibangun untuk ditinggalkan. barangkali dikunjungi sesekali dan mereka nampak berbeda dari ketika pertama kita membuatnya. Mereka selalu bangunan-bangunan sempurna yang kosong, dibangun untuk ditinggalkan

    ..


    aku perempuanmu

    aku lupa pada ingatan tentang detak yang meruang dalam darahku, kealpaan yang menyekat untuk selalu diingat. detak yang selalu riuh dengan sebuah tanya yang tak pernah ingin kutahu jawabnya. Tanya yang selalu hinggar dalam diamku : akukah perempuanmu? Perempuan dengan separuh ingatan yang menguap diantara awan yang berubah menjadi gumpalan darah yang membeku dalam satu sudut kesendirian untuk dihingarkan menjadi sebuah seloka di ujung hari bernama senja.Ah, mari kita tasbihkan saja keringat kita dalam desah yang kita tempelkan begitu saja pada sebuah malam di bawah bintang.

    Monday, August 10, 2009
    itulah: kau!

    sembari melafalkan wajahmu pada resonansi abjad-abjad, aku basuh lukamu dengan getir khatulistiwa.

    memunguti batu-batu,
    menghitung ujung rambutmu dari harap-harap kehadiran.

    menapaki jalan-jalan, menangisi kesendirian melulu.
    tak ada yang mencoba memecah kesuntukan. berdamai
    dengan matahari.
    itulah: kau!

    sebagian hari kau nampak pucat. seperti wajah bulan di telan gerhana. ayo, berikan senyummu pada cakrawala. biar segera jelma kepastian. sebagian hari kau habiskan di puncak panderman. sewaktu kau buka cerita tentang nenek moyang yang mati sebagai pahlawan-pahlawan kesiangan. sebagian hari kau seperti tertawa. menabur gembira isi neraka di koran-koran. ayo, berikan kepastian untuk melihat surga.
    itulah: kau!

    di mana terserak kesungguhan yang memberi ruang pada setiap langkah. senantiasa gelisah pada jalinan panjang amarah. ah, wajah personifikasi dongeng-dongeng sejarah.


    bagaimana aku bisa jadi perempuanmu?



    bagaimana aku bisa jadi perempuanmu jika belatung-belatung keliaran
    dalam otakku begitu membiak dan bernanah dalam darahku?
    bagaimana kamu bisa jadi lelakiku ketika ruap kegelisahanku tak kunjung
    juga menjadi suatu pemahaman yang akan mendamaikan tidurmu?
    aku adalah abadi!!


    ingatan tentang lelaki yang menjemput di stasiun

    “Mari kita lakukan!”, bisikmu sembari kau memunguti pakaianmu sehingga telanjang. “Biar aku hilangkan semua matahari. Dan gelap yang akan menuntun kita. Menjadi sepasang kekasih yang menyerah pada sebuah ranjang.

    bicaralah perempuan

    sering aku di tikam perasaan yang bersalah saat aku harus bertatapan dengan wajah itu. Ada yang tak kumengerti dari guratan peristiwa yang diciptakan dari hari penuh dusta dan teriakan karena kekesalan yang memuncak. Makna yang tak pernah aku tahu, kapan akan tiba waktunya aku berbicara jujur tentang cinta yang aku gambar sendiri lewat kerumunan massa yag memandang acuh saat aku bersama wajah yang menghiasi segala hari. Ah, kejujuran yang mungkin tak akan mereka mengerti, karena kata-kataku telah menjadi burung. Bersayap dan terbang ke batas cakrawala. Mencari sendiri matahari yang aku biarkan aku meleleh dibatinku. Sedangkan aku hanya bisa diam. Hanya bisa mencari batas tanda tanya pura-pura. Kesunyian yang aku puisikan, melintas ingatan. Berenang dalam lautan peristiwa. Menggenggam kejujuran beban tak tertahan. Menyimpan duka dada yang berserakan dalam tangis tanpa air mata. Menyimpan api yang membakar angan. Perlahan. Menyakitkan. Beribu kalimat makian menekan-nekan. Muntah dari rongga dada yang menyimpan cerita kehidupan. Sekedar puisi tangan menari, lepaskan gelisah berkelana mencari malam yang bisa diajak berkaca dalam keheningan. Aku pahat romantika dari buku-buku peradaban. Mengusir keterasinganku dari dunia kewajaran. Menyusuri kejujuran yang tak jua aku kenali sebelumnya. Mencoba memahami peristiwa yang berulang, datang dan pergi. Dalam kesunyian aku mencari wajah sendiri. Dalam kegamangan kucoba untuk mendengarkan saja. Bicaralah!
    “Bicaralah, perempuan”.

    Thursday, July 09, 2009
    namaku senja

    namaku senja,saat warna api memerah di ujung cakrawala dan aku mengenalMu dari tempat paling hening di dunia:di hatiku.

    namaku pagi, saat embun mulai lari dari gelap malam dan aku mencintaiMu dari  rasa sakit yang paling sepi di dunia : di sujudku.



    Next Page