Monday, August 31, 2009
seperti inilah, aku letakka ranjang dalam dadamu
kujadikan rongarongga sempit itu kamar cintaku
aku bahagia mencintamu.
Apa kabarmu malam? Sesekali kita terjaga tengah bercermin pada segala, pada fragmen
kalimat yang tidak relevan, pada potongan ingatan akan sebuah kisah
atau percakapan lalu tersandung serpih yang ternyata telah jadi sebutir
kata kunci. Ia membuka kotak pandora dalam dada lalu menyebarkan polusi
di rongga-rongga dengan kental kesedihan dalam udara. Nafas-nafas sarat
lalu sesak dan berat.
Apa kabarmu malam? sebuah sedih yang pada puncaknya sanggup
membisukan segenapmu dalam kedap yang sempurna. kedap pepat seperti
perangkap kaca tahan peluru atau ruang "airlock" pada pesawat
antariksa. Tak ada bunyi yang rambat, tak ada resonan atau hembusan
yang rajin mengirimkan jeritan atau isak yang biasanya disandikan
diam-diam lalu diurai kode-kodenya oleh radar empati. Hanya khayalan
akan getar pita suara yang putus asa yang belum tentu terbukti pula.
apa kabarmu malam? masa
lalu seperti bangunan yang kita dirikan, lemari yang dipenuh-penuhkan,
kamar-kamar yang kita tata dengan begitu pribadi namun tak untuk
ditinggali. aku terus berjalan lurus membangun sepetak demi sepetak
lahan yang terus menjulang sesekali megah, kadang rapuh, kadang memar
tapi semuanya dibangun untuk ditinggalkan. barangkali dikunjungi
sesekali dan mereka nampak berbeda dari ketika pertama kita membuatnya.
Mereka selalu bangunan-bangunan sempurna yang kosong, dibangun untuk
ditinggalkan
..
aku lupa pada ingatan tentang detak yang meruang dalam darahku, kealpaan yang menyekat untuk selalu diingat. detak yang selalu riuh dengan sebuah tanya yang tak pernah ingin kutahu jawabnya. Tanya yang selalu hinggar dalam diamku : akukah perempuanmu? Perempuan dengan separuh ingatan yang menguap diantara awan yang berubah menjadi gumpalan darah yang membeku dalam satu sudut kesendirian untuk dihingarkan menjadi sebuah seloka di ujung hari bernama senja.Ah, mari kita tasbihkan saja keringat kita dalam desah yang kita tempelkan begitu saja pada sebuah malam di bawah bintang.
Monday, August 10, 2009
sembari melafalkan wajahmu pada resonansi abjad-abjad, aku basuh lukamu dengan getir khatulistiwa.
memunguti batu-batu,
menghitung ujung rambutmu dari harap-harap kehadiran.
menapaki jalan-jalan, menangisi kesendirian melulu.
tak ada yang mencoba memecah kesuntukan. berdamai
dengan matahari.
itulah: kau!
sebagian hari kau nampak pucat. seperti wajah bulan di telan gerhana.
ayo, berikan senyummu pada cakrawala. biar segera jelma kepastian.
sebagian hari kau habiskan di puncak panderman. sewaktu kau buka cerita
tentang nenek moyang yang mati sebagai pahlawan-pahlawan kesiangan.
sebagian hari kau seperti tertawa. menabur gembira isi neraka di
koran-koran. ayo, berikan kepastian untuk melihat surga.
itulah: kau!
di mana terserak kesungguhan yang memberi ruang pada setiap langkah. senantiasa gelisah pada jalinan panjang amarah.
ah, wajah personifikasi dongeng-dongeng sejarah.
bagaimana aku bisa jadi perempuanmu?
bagaimana aku bisa jadi perempuanmu jika belatung-belatung keliaran
dalam otakku begitu membiak dan bernanah dalam darahku?
bagaimana kamu bisa jadi lelakiku ketika ruap kegelisahanku
tak kunjung
juga menjadi suatu pemahaman yang akan mendamaikan tidurmu?
aku adalah abadi!!
ingatan tentang lelaki yang menjemput di stasiun
“Mari kita lakukan!”, bisikmu sembari kau memunguti pakaianmu sehingga
telanjang. “Biar aku hilangkan semua matahari. Dan gelap yang akan
menuntun kita. Menjadi sepasang kekasih yang menyerah pada sebuah
ranjang.
sering aku di tikam perasaan yang bersalah saat aku harus bertatapan
dengan wajah itu. Ada yang tak kumengerti dari guratan peristiwa yang
diciptakan dari hari penuh dusta dan teriakan karena kekesalan yang
memuncak. Makna yang tak pernah aku tahu, kapan akan tiba waktunya aku
berbicara jujur tentang cinta yang aku gambar sendiri lewat kerumunan
massa yag memandang acuh saat aku bersama wajah yang menghiasi segala
hari. Ah, kejujuran yang mungkin tak akan mereka mengerti, karena
kata-kataku telah menjadi burung. Bersayap dan terbang ke batas
cakrawala. Mencari sendiri matahari yang aku biarkan aku meleleh
dibatinku. Sedangkan aku hanya bisa diam. Hanya bisa mencari batas
tanda tanya pura-pura. Kesunyian yang aku puisikan, melintas ingatan.
Berenang dalam lautan peristiwa. Menggenggam kejujuran beban tak
tertahan. Menyimpan duka dada yang berserakan dalam tangis tanpa air
mata. Menyimpan api yang membakar angan. Perlahan. Menyakitkan. Beribu
kalimat makian menekan-nekan. Muntah dari rongga dada yang menyimpan
cerita kehidupan. Sekedar puisi tangan menari, lepaskan gelisah
berkelana mencari malam yang bisa diajak berkaca dalam keheningan. Aku
pahat romantika dari buku-buku peradaban. Mengusir keterasinganku dari
dunia kewajaran. Menyusuri kejujuran yang tak jua aku kenali
sebelumnya. Mencoba memahami peristiwa yang berulang, datang dan pergi.
Dalam kesunyian aku mencari wajah sendiri. Dalam kegamangan kucoba
untuk mendengarkan saja. Bicaralah!
“Bicaralah, perempuan”.
Thursday, July 09, 2009
namaku senja,saat warna api memerah di ujung cakrawala dan aku mengenalMu dari tempat paling hening di dunia:di hatiku.
namaku pagi, saat embun mulai lari dari gelap malam dan aku mencintaiMu dari rasa sakit yang paling sepi di dunia : di sujudku.
Tuesday, July 07, 2009
Kemungkinan
apakah ini ketika tak bosan-bosanya Kau beri kesempatan dan kesempatan
lain lagi, agar dengan hati-hati dapat terus kumaknai gumpalan-gumpalan
awan yang samar kutafsirkan sebgai wajah purba keEngkauanku?
Saturday, June 20, 2009
aku
mencintai hidup seperti aku mencintai puisi. aku mencintaimu seperti
aku mencintai puisi. aku mencintai Tuhanku seperti aku mencintai puisi.
aku mencintai jiwaku seperti aku mencintai puisi. karena hanya puisi
yang memberi ruang untuk memaknainya dengan hatiku.
...