inilah arti banyak dari satu kata laknat
:Waktu
inilah halte kehidupan.
konstanta peradaban.
partikel sebuah perjalanan;
semua tumbuh sendiri
semua rusak sendiri,
untuk akhirnya mati.
( dan Waktu mengalir di situ)panggil saja aku :
perempuan kekasih Waktu! kekasihwaktu@yahoo.com
|
 |
Wednesday, October 27, 2010
Tuhan, Mbah Marijan & Jawa
Pagi ini seorang kawan
lama sesama pendaki mengabarkan bahwa Mbah Marijan si Penjaga Merapi
itu wafat. Berbagai reaksi bermunculan. Salah satunya ada pihak yang
mengatakan bahwa Mbah Marijan sangat menyepelekan ilmu pengetahuan yang
jelas2 sudah member tahu ttg bahaya Merapi. Ingatan ttg beliau tiba2
berhamburan. Saya ingat dulu beliau selalu menemani malam minggu ketika
bersama sahabat2 saya dengan gaya sok jagoan jadi pendaki gunung itu (
gaya sok jagoan kami adalah mengikuti gaya beliau yang memakai sarung
dan membawa sebotol air minum saja). HIngga pada satu sore di sebuah
senja yang jatuh dengan secangkir kopi dan ketawanya yang khas kami
sempat bercakap tentang Merapi. Sebenarnya orang Jawa itu tidak
mengenal konsep Tuhan dalam arti pemahaman agama2 Samawi yang notabene
sebenarnya ‘impor’ bagi kultur Jawa. Pulau yang begitu subur dengan
bermacam2 gunung tentu saja selalu melimpahi rakyatnya dengan berbagai
kemakmuran, karena Tuhan adalah apa yang begitu ‘dekat’ dengan mereka
maka Alam Semesta itu lah sebenarnya yang mereka sebut Tuhan. Tentu
saja setelah berbagai kultur dari India dengan Hinduism dan Budhanya,
Arab dengan Yahudi, Kristen dan Islamnya mau tidak mau mereka harus
mengkongkritkan pemahaman Tuhan ke dalam bentuk yang lebih kongkrit.
Dan hirarki tertinggi mereka tentu saja adalah para Raja2 Jawa. Itu
sebabnya jika Anda masih memiliki nenek2 atau kakek2 suku Jawa, cara
mereka memanggil Tuhan adalah dengan sebutan “Gusti Allah” bahkan ada
yang menyebutnya “Gusti Pangeran” masih banyak yang menyebut. Konsep
‘Gusti’ inilah sebenarnya adalah cara mereka berusaha keras bahwa
konsep abstrak mereka ttg Tuhan bisa terwujud dalam bentuk ‘Gusti” (
panggilan untuk raja). Banyak doa2 jawa menyebut “ Duh Gusti Pangeran
yang maha Agung …..” . karena itu tak heran bahwa Raja adalah
manifestasi tertinggi mereka untuk loyalitas. Apapun titah raja itu
adalah bentuk ‘perintah’ dari Kekuatan Terbesar alam Semesta.
Ketika mbah Marijan dititahkan Raja Jawa untuk menjaga Merapi, itu
bagaikan Musa di gurun Sinai yang mendengar langsung Tuhan dan memberi
10 perintah keilahiannya. Sesuatu yang harus secara total dan penuh di
jalani apapun resikonya. Persepektif keimanan dan ketaatan inilah yang
sulit sekali sebenarnya di jelaskan dengan akal sehat di alam modern
ini. Seperti halnya para kelompok2 garis geras yang mengatasnamakan
agama tertentu yang terus melakukan tindakan anarkis, bagi mereka itu
adalah masalah keyakinan dan keimanan mereka. Demikian pula dengan Mbah
Marijan. Bagi beliau, meninggal dalam menjalankan perintah “Gusti
Pangeran” yang disampaikan Hamengkubowono adalah jihad dan beliau
menjalaninya dengan penuh cinta dan pengabdian yang penuh. Jadi bukan
karena dia melecehkan ilmu pengetahuan atau bertindak bodoh. Beliau
dengan amat sadar sekali dengan semua resiko itu. Sepert halnya para
pelaku bom bunuh diri di negeri ini. Apapun agama di dunia ini selalu
mengenal konsep ‘pengorbanan’, Islam dengan perintah menyembelih
Ismailnya, Kristen dengan Penyaliban Yesus, Hindu dengan pembakaran api
sucinya dll. Apakah itu kebodohan? Tentu saja buat penganut paham
logika akan mengatakan ya tetapi dalam persepektif keimanan itu adalah
bentuk kesetiaan keCintaan manusia terhadap Tuhan dan melalui
‘pengorbanan’ itu pula diharapkan akan terjadi keseimbangan buat umat
manusia dan tentu saja alam ini sendiri. Bisa jadi itu yang ada di
dalam benak Mbah Marijan saat semua akal sehat mengatakan betapa
bodohnya dia tidak mau meninggalkan KInahrejo. Desa itu adalah
hidupnya, cintanya. Kematian buat seorang Mbah Marijan bukanlah hal
yang menakutkan. Karena kematian justru bentuk manifestasi tertingginya
bersatu bersama Alam yang sangat amat mencintai dan dicintainya. Rumah
yang sebenarnya buat beliau justru sudah ditempatinya. Alam ini
sendiri. Siapa bilang dia tidak bahagia ? justru saya pribadi sangat
“iri” bahwa dia menjalani kematian dengan penuh Cinta dan dengan
kesadaran penuh untuk pulang ke Tuhannya : Alam Semesta. … Sampai ketemu lagi Mbah…kita akan ketemu lagi ditempat dahulu kita mulai… Ingatan sebuah pendakian yang tak terlupakan bersama : Tofa, Cieng, Jojon, Weni, Nanang, Yuyun,Bavo, Farida.
Sunday, February 21, 2010
silakan kunjungi website saya : www.budenovi.com
Monday, August 31, 2009
seperti inilah, aku letakka ranjang dalam dadamu kujadikan rongarongga sempit itu kamar cintaku aku bahagia mencintamu.
Apa kabarmu malam? Sesekali kita terjaga tengah bercermin pada segala, pada fragmen
kalimat yang tidak relevan, pada potongan ingatan akan sebuah kisah
atau percakapan lalu tersandung serpih yang ternyata telah jadi sebutir
kata kunci. Ia membuka kotak pandora dalam dada lalu menyebarkan polusi
di rongga-rongga dengan kental kesedihan dalam udara. Nafas-nafas sarat
lalu sesak dan berat. Apa kabarmu malam? sebuah sedih yang pada puncaknya sanggup
membisukan segenapmu dalam kedap yang sempurna. kedap pepat seperti
perangkap kaca tahan peluru atau ruang "airlock" pada pesawat
antariksa. Tak ada bunyi yang rambat, tak ada resonan atau hembusan
yang rajin mengirimkan jeritan atau isak yang biasanya disandikan
diam-diam lalu diurai kode-kodenya oleh radar empati. Hanya khayalan
akan getar pita suara yang putus asa yang belum tentu terbukti pula. apa kabarmu malam? masa
lalu seperti bangunan yang kita dirikan, lemari yang dipenuh-penuhkan,
kamar-kamar yang kita tata dengan begitu pribadi namun tak untuk
ditinggali. aku terus berjalan lurus membangun sepetak demi sepetak
lahan yang terus menjulang sesekali megah, kadang rapuh, kadang memar
tapi semuanya dibangun untuk ditinggalkan. barangkali dikunjungi
sesekali dan mereka nampak berbeda dari ketika pertama kita membuatnya.
Mereka selalu bangunan-bangunan sempurna yang kosong, dibangun untuk
ditinggalkan ..
aku lupa pada ingatan tentang detak yang meruang dalam darahku, kealpaan yang menyekat untuk selalu diingat. detak yang selalu riuh dengan sebuah tanya yang tak pernah ingin kutahu jawabnya. Tanya yang selalu hinggar dalam diamku : akukah perempuanmu? Perempuan dengan separuh ingatan yang menguap diantara awan yang berubah menjadi gumpalan darah yang membeku dalam satu sudut kesendirian untuk dihingarkan menjadi sebuah seloka di ujung hari bernama senja.Ah, mari kita tasbihkan saja keringat kita dalam desah yang kita tempelkan begitu saja pada sebuah malam di bawah bintang.
Monday, August 10, 2009
sembari melafalkan wajahmu pada resonansi abjad-abjad, aku basuh lukamu dengan getir khatulistiwa.
memunguti batu-batu,
menghitung ujung rambutmu dari harap-harap kehadiran.
menapaki jalan-jalan, menangisi kesendirian melulu.
tak ada yang mencoba memecah kesuntukan. berdamai
dengan matahari.
itulah: kau!
sebagian hari kau nampak pucat. seperti wajah bulan di telan gerhana.
ayo, berikan senyummu pada cakrawala. biar segera jelma kepastian.
sebagian hari kau habiskan di puncak panderman. sewaktu kau buka cerita
tentang nenek moyang yang mati sebagai pahlawan-pahlawan kesiangan.
sebagian hari kau seperti tertawa. menabur gembira isi neraka di
koran-koran. ayo, berikan kepastian untuk melihat surga.
itulah: kau!
di mana terserak kesungguhan yang memberi ruang pada setiap langkah. senantiasa gelisah pada jalinan panjang amarah.
ah, wajah personifikasi dongeng-dongeng sejarah.
bagaimana aku bisa jadi perempuanmu?
bagaimana aku bisa jadi perempuanmu jika belatung-belatung keliaran
dalam otakku begitu membiak dan bernanah dalam darahku?
bagaimana kamu bisa jadi lelakiku ketika ruap kegelisahanku
tak kunjung
juga menjadi suatu pemahaman yang akan mendamaikan tidurmu?
aku adalah abadi!!
ingatan tentang lelaki yang menjemput di stasiun
“Mari kita lakukan!”, bisikmu sembari kau memunguti pakaianmu sehingga
telanjang. “Biar aku hilangkan semua matahari. Dan gelap yang akan
menuntun kita. Menjadi sepasang kekasih yang menyerah pada sebuah
ranjang.
sering aku di tikam perasaan yang bersalah saat aku harus bertatapan
dengan wajah itu. Ada yang tak kumengerti dari guratan peristiwa yang
diciptakan dari hari penuh dusta dan teriakan karena kekesalan yang
memuncak. Makna yang tak pernah aku tahu, kapan akan tiba waktunya aku
berbicara jujur tentang cinta yang aku gambar sendiri lewat kerumunan
massa yag memandang acuh saat aku bersama wajah yang menghiasi segala
hari. Ah, kejujuran yang mungkin tak akan mereka mengerti, karena
kata-kataku telah menjadi burung. Bersayap dan terbang ke batas
cakrawala. Mencari sendiri matahari yang aku biarkan aku meleleh
dibatinku. Sedangkan aku hanya bisa diam. Hanya bisa mencari batas
tanda tanya pura-pura. Kesunyian yang aku puisikan, melintas ingatan.
Berenang dalam lautan peristiwa. Menggenggam kejujuran beban tak
tertahan. Menyimpan duka dada yang berserakan dalam tangis tanpa air
mata. Menyimpan api yang membakar angan. Perlahan. Menyakitkan. Beribu
kalimat makian menekan-nekan. Muntah dari rongga dada yang menyimpan
cerita kehidupan. Sekedar puisi tangan menari, lepaskan gelisah
berkelana mencari malam yang bisa diajak berkaca dalam keheningan. Aku
pahat romantika dari buku-buku peradaban. Mengusir keterasinganku dari
dunia kewajaran. Menyusuri kejujuran yang tak jua aku kenali
sebelumnya. Mencoba memahami peristiwa yang berulang, datang dan pergi.
Dalam kesunyian aku mencari wajah sendiri. Dalam kegamangan kucoba
untuk mendengarkan saja. Bicaralah!
“Bicaralah, perempuan”.
Thursday, July 09, 2009
namaku senja,saat warna api memerah di ujung cakrawala dan aku mengenalMu dari tempat paling hening di dunia:di hatiku.namaku pagi, saat embun mulai lari dari gelap malam dan aku mencintaiMu dari rasa sakit yang paling sepi di dunia : di sujudku.
|