sering aku di tikam perasaan yang bersalah saat aku harus bertatapan
dengan wajah itu. Ada yang tak kumengerti dari guratan peristiwa yang
diciptakan dari hari penuh dusta dan teriakan karena kekesalan yang
memuncak. Makna yang tak pernah aku tahu, kapan akan tiba waktunya aku
berbicara jujur tentang cinta yang aku gambar sendiri lewat kerumunan
massa yag memandang acuh saat aku bersama wajah yang menghiasi segala
hari. Ah, kejujuran yang mungkin tak akan mereka mengerti, karena
kata-kataku telah menjadi burung. Bersayap dan terbang ke batas
cakrawala. Mencari sendiri matahari yang aku biarkan aku meleleh
dibatinku. Sedangkan aku hanya bisa diam. Hanya bisa mencari batas
tanda tanya pura-pura. Kesunyian yang aku puisikan, melintas ingatan.
Berenang dalam lautan peristiwa. Menggenggam kejujuran beban tak
tertahan. Menyimpan duka dada yang berserakan dalam tangis tanpa air
mata. Menyimpan api yang membakar angan. Perlahan. Menyakitkan. Beribu
kalimat makian menekan-nekan. Muntah dari rongga dada yang menyimpan
cerita kehidupan. Sekedar puisi tangan menari, lepaskan gelisah
berkelana mencari malam yang bisa diajak berkaca dalam keheningan. Aku
pahat romantika dari buku-buku peradaban. Mengusir keterasinganku dari
dunia kewajaran. Menyusuri kejujuran yang tak jua aku kenali
sebelumnya. Mencoba memahami peristiwa yang berulang, datang dan pergi.
Dalam kesunyian aku mencari wajah sendiri. Dalam kegamangan kucoba
untuk mendengarkan saja. Bicaralah!
“Bicaralah, perempuan”.