sembari melafalkan wajahmu pada resonansi abjad-abjad, aku basuh lukamu dengan getir khatulistiwa.
memunguti batu-batu,
menghitung ujung rambutmu dari harap-harap kehadiran.
menapaki jalan-jalan, menangisi kesendirian melulu.
tak ada yang mencoba memecah kesuntukan. berdamai
dengan matahari.
itulah: kau!
sebagian hari kau nampak pucat. seperti wajah bulan di telan gerhana.
ayo, berikan senyummu pada cakrawala. biar segera jelma kepastian.
sebagian hari kau habiskan di puncak panderman. sewaktu kau buka cerita
tentang nenek moyang yang mati sebagai pahlawan-pahlawan kesiangan.
sebagian hari kau seperti tertawa. menabur gembira isi neraka di
koran-koran. ayo, berikan kepastian untuk melihat surga.
itulah: kau!
di mana terserak kesungguhan yang memberi ruang pada setiap langkah. senantiasa gelisah pada jalinan panjang amarah.
ah, wajah personifikasi dongeng-dongeng sejarah.