Apa kabarmu malam? Sesekali kita terjaga tengah bercermin pada segala, pada fragmen
kalimat yang tidak relevan, pada potongan ingatan akan sebuah kisah
atau percakapan lalu tersandung serpih yang ternyata telah jadi sebutir
kata kunci. Ia membuka kotak pandora dalam dada lalu menyebarkan polusi
di rongga-rongga dengan kental kesedihan dalam udara. Nafas-nafas sarat
lalu sesak dan berat.
Apa kabarmu malam? sebuah sedih yang pada puncaknya sanggup
membisukan segenapmu dalam kedap yang sempurna. kedap pepat seperti
perangkap kaca tahan peluru atau ruang "airlock" pada pesawat
antariksa. Tak ada bunyi yang rambat, tak ada resonan atau hembusan
yang rajin mengirimkan jeritan atau isak yang biasanya disandikan
diam-diam lalu diurai kode-kodenya oleh radar empati. Hanya khayalan
akan getar pita suara yang putus asa yang belum tentu terbukti pula.
apa kabarmu malam? masa
lalu seperti bangunan yang kita dirikan, lemari yang dipenuh-penuhkan,
kamar-kamar yang kita tata dengan begitu pribadi namun tak untuk
ditinggali. aku terus berjalan lurus membangun sepetak demi sepetak
lahan yang terus menjulang sesekali megah, kadang rapuh, kadang memar
tapi semuanya dibangun untuk ditinggalkan. barangkali dikunjungi
sesekali dan mereka nampak berbeda dari ketika pertama kita membuatnya.
Mereka selalu bangunan-bangunan sempurna yang kosong, dibangun untuk
ditinggalkan
..